Jumat, 06 Februari 2015

[001] Al Fatihah Ayat 004

««•»»
Surah Al Fatihah 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
««•»»
maaliki yawmi alddiini
««•»»
Yang menguasai {4} di Hari Pembalasan.{5}
{4} Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.
{5} Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa` dan sebagainya.
««•»»
Master[1] of the Day of Retribution.
[1] This is in accordance with the reading mālik yawm al-dīn, adopted by ʿĀṣim, al-Kisāʾī, Yaʿqūb al-Ḥaḍramī, and Khalaf. Other authorities of qirāʾah (the art of recitation of the Qurʾān) have read ‘malik yawm al-dīn,’ meaning ‘Sovereign of the Day of Retribution’ (see Muʿjam al-Qirāʾāt al-Qurʾāniyyah). Traditions ascribe both readings to Imam Jaʿfar al-Ṣādiq (ʿa). See al-Qummī, al-ʿAyyāshī, Tafsīr al-Imām al-ʿAskarī.
««•»»

Sesudah Allah swt. menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu menguasai hari pembalasan.

"Malik" berarti "Yang Menguasai"

Ada dua macam bacaan berkenaan dengan "Malik", pertama dengan memanjangkan "Maa", kedua dengan memendekkannya. Menurut bacaan yang pertama, "Maalik" artinya: Yang memiliki (yang empunya). Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya: Raja; kedua-dua bacaan itu dibolehkan.

Baik menurut bacaan yang pertama, atau pun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti "berkuasa" dan bertindak dengan sepenuhnya. Sebab itulah maka diterjemahkan dengan: "Yang menguasai". "Yaum", (hari) artinya, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak.

"Ad-Din" itu banyak artinya, di antaranya:
  1. 1.Perhitungan
  2. 2.Ganjaran, pembalasan
  3. 3.Patuh
  4. 4.Menundukkan
  5. 5.Syariat, agama
Yang selaras di sini ialah dengan arti "pembalasan". Jadi "Maaliki yaumiddin" maksudnya "Tuhan itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan itu".

Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal-hal yang terjadi, yaitu hari kiamat, hari berbangkit, hari berkumpul, hari perhitungan, hari pembalasan, tetapi pembalasan sajalah yang disebut oleh Tuhan di sini, karena itulah yang terpenting. Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, berbangkit dan seterusnya, pendahuluan dari pembalasan itu, apalagi untuk targib dan tarhib (menarik dan menakuti) dengan menyebut "hari pembalasan" itulah yang lebih tepat.

Hari akhirat menurut pendapat akal (filsafat)

Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia di masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal.

Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini bukanlah saja ditetapkan oleh agama, malah juga ditunjukkan oleh akal.

Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain. Alangkah banyaknya hidup di dunia ini orang yang teraniaya telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan. Alangkah banyaknya orang yang berjasa, biar kecil atau besar, belum mendapat penghargaan terhadap jasanya. Alangkah hanyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat dan peluh, membanting tulang tetapi belum sempat lagi merasa buah usahanya itu.

Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat-penjahat, penganiaya, pembuat onar yang tak dapat dipegang oleh pengadilan di dunia ini. Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain. Maka biar pun kejahatan dan aniaya itu telah meratai bangsa seluruhnya tiadalah digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati. Victor Hugo (1802-1885) pernah menyindir keadaan ini dengan katanya, "Membunuh seorang manusia dalam rimba adalah satu dosa yang tak dapat diampuni, tetapi membunuh suatu bangsa seluruhnya adalah satu soal yang masih dapat dipertimbangkan." Maka di manakah akan didapat gerangan keadilan itu, kalau tidak ada nanti mahkamah yang lebih tinggi, yaitu mahkamah Allah di hari kemudian.

Sebab itu ahli-ahli pikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir. Antara lain Pythagoras; filosof ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini persediaan hidup yang abadi di akhirat kelak. Sebab itu semenjak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi ini. Socrates, Plato dan Aristoteles, "Jiwa yang baik akan merasai kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu. Hanya kelezatan rohani yang bagaimana pun banyak dan lamanya, tiadalah menyebabkan bosan dan jemu."

Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam tentang hari akhirat

Di antara bangsa Arab sebelum datang agama Islam didapati beberapa ahli pikir dan pujangga-pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian itu. Umpamanya Zuhair bin Abu Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad saw. diutus Allah. Pujangga ini pernah berkata yang artinya:
Sesuatu pekerti atau perbuatan seseorang yang menurut dugaannya tidak diketahui orang, pasti diketahui juga oleh Tuhan.

Sebab itu janganlah disembunyikan kepada Allah sesuatu yang ada pada dirimu, karena bagaimanapun kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan mengetahuinya.

Dilambatkan membalasnya, maka ditulislah dalam buku disimpan sampai "hari perhitungan", atau disegerakan maka diberi balasan. s

Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian itu. Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair mereka:
"Hidup, sudah itu mati, sudah itu dibangkit lagi, itulah cerita dongeng hai fulan".

Karena itu, datanglah agama Islam membawa kepastian tentang adanya hari kemudian. Di hari akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya biar pun besar atau kecil. Allah swt. berfirman.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ · وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya akan melihat (balasan)nya pula. 
(Q.S Az Zalzalah [99]: 7-8)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak. Lafal `yaumuddiin` disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan."

(QS. Al Mukmin [40]:16)

Bagi orang yang membacanya `maaliki` maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat". Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti `ghaafiruz dzanbi` (Yang mengampuni dosa-dosa). Dengan demikian maka lafal `maaliki yaumiddiin` ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).
««•»»
Master of the Day of Judgement: that is, [the day of] requite, the Day of Resurrection. The reason for the specific mention [of the Day of Judgement] is that the mastery of none shall appear on that Day except that of God, may He be exalted, as is indicated by [God’s words] ‘Whose is the Kingdom today?’ ‘God’s’

(QS. Al Mukmin [40]:16)

(if one reads it mālik [as opposed to malik], then this signifies that He has possession of the entire affair on the Day of Resurrection, or else that He is ever described by this [expression], in the same way as [He is described as] ‘Forgiver of sin’ (ghāfir al-dhanb). Thus, one can validly take it as an adjective of a definite noun).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 3][AYAT 5]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=1&tAyahNo=4&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#1:4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar